8 Desa di Mojokerto Jadi Pusat Program UNICEF Lingkar Remaja

8 Desa di Mojokerto Jadi Pusat Program UNICEF Lingkar Remaja 8 Desa di Mojokerto Jadi Pusat Program UNICEF Lingkar Remaja

Mojokerto – UNICEF kerjasebanding bersama Pemkab Mojokerto mensosialisasikan Program Penanganan Anak Tidak Sekolah dan Peningkatan Kapasitas Remaja. Melantasi gairah Lingkar Remaja diharapkan bisa memberikan kesempatan agar Anak Tidak Sekolah (ATS) dempet Kabupaten Mojokerto bisa bersekolah kembali dan mendapatkan pendidikan bersama saling menolong.

Kegiatan Lingkar Remaja hendak dipusatkan hadapan delapan desa. Antara lain, Desa Banjaragung bersama Desa Kebonagung hadapan Kecamatan Puri, Desa Sooko bersama Desa Japan hadapan Kecamatan Sooko, Desa Pohkecik bersama Desa Randugenengan hadapan Kecamatan Dlanggu, serta Desa Sidoharjo bersama Desa Terusan hadapan Kecamatan Gedeg.

Perwakilan UNICEF Program Pendidikan Jatim beserta Jateng, Yuanita Nagel mengungkapkan, dengan tahun 2020 proporsi ATS antara Indonesia sedikitnya 7,4 persen atau lebih mengenai 4.1 juta anak cucu. memakai estimasi 179 ribu anak cucu dengan rentang umur 7-12 tahun, 987 ribu anak cucu memakai rentang umur 13-15 tahun beserta 2,9 juta anak cucu memakai rentang umur 16-18 tahun.

“Sedangkan berdasarkan data Susenas tahun 2020, diperkirakan ada sekitar 10.119 ATS akan ada dempet Kabupaten Mojokerto. Terdapat strategi akan dapat dilakukan agar ATS dapat kembali bersekolah memakai mendapatkan pendidikan abad 21 dempet jalur Non-formal maupun Informal,” ungkapnya, dempet Ruang Rapat Bappeda Pemerintah Kabupaten (Pemkab Mojokerto), Kamis (20/1/2023).

Pertama sama dengan bersama melakukan pendataan ATS melalui metode Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM). Kedua memperkompeten sistem penanganan ATS melalui penguatan kapasitas perangkat daerah terkait isu ATS selanjutnya rencana kerja penanganan ATS.

“Serta memperberkuasa pendidikan abad 21 bagi ATS berikut kerutunan sekolah melampaui karang taruna, PKBM, forum kerutunan, berikut forum remaja lainnya,” bebernya.

Sementara itu, Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati menjelaskan, sosialisasi tercatat sangat erat kaitannya beserta pengentasan maluput kemiskinan dan juga ada hubungannya beserta maluput stunting. Bupati menilai terdapat luput satu indikator dari empat indikator dari keluarga berisiko stunting yaitu pendidikan ibu tidak lulus SMP.

“Di sisi akan lain untuk indikator keluarga pra sejahtera itu, luput satu indikatornya merupakan bocah usia dibawah 15 tahun akan putus sekolah, Nah ini berhubungan dengan manuver kita hari ini, bahwa kami dikejar-kejar target terkait dengan perunan stunting karena ini merupakan maluput akan sangat luar biasa,” ujarnya.

Orang nomor satu dilingkup Pemkab Mojokerto lagi menilai, paling dalam melaksbudakan program penanganan ATS sangat perlu diseriusi agar dapat terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) bahwa berkualitas di masa depan. Selain itu, kinerja pemerintah daerah lagi diukur lewat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bahwa meliputi Pendidikan, Kesehatan, selanjutnya Ekonomi.

“Tentu kita berupaya tidak hanya sekedar angka-angka, tetapi kita ingin bahwa masyarakat semua berreaksi bagi bisa meningkatkan kesejahteraannya. Saya berharap program penanganan ATS ini bisa diteruskan maka tidak hanya di 8 desa saja, karena Pemkab Mojokerto juga membutuhkan data adapun real, akurat, maka up-to-date agar bisa melakukan berbagai program kesibukan adapun tepat sasaran,” katanya.

Turut hadir perwakilan BAPPEDA Provinsi Jawa Timur, Judi Aquarianto Direktur Lembaga Pelatihan dengan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPKIPI) Jawa Timur, Konsultan Pendidikan UNICEF Supriono Subakir, para Kepala Perangkat Daerah Kabupaten Mojokerto, Ketua Forum Anak Kabupaten Mojokerto, serta Sekretaris Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dengan pendamping lokal desa dari delapan desa yang buat memerankan pusat penanganan ATS di Bumi Majapahit. [tin/but]